Jerman menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2006
Jerman Piala Dunia 2006

Perjalanan Jerman menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2006

Diposting pada

Perjalanan Jerman menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2006. Sesudah di Piala Dunia 2002 diadakan pada benua Asia persisnya Korea Selatan dan Jepang, pada edisi 2006, FIFA menunjuk Jerman menjadi tuan-rumah saat sukses menaklukkan calon yang lain seperti Afrika Selatan, Inggris dan Maroko.

Ditunjuknya Jerman sebagai tuan-rumah pada waktu itu, sudah termasuk jadi pengalaman yang pertamanya kali, saat Jerman Barat dan Jerman Timur memilih untuk berpadu semenjak tahun 1990 lalu.

Pada ajang Piala Dunia 2006 itu, berlangsungnya kejadian baru. Untuk pertamanya kali, juara bertahan Piala Dunia tidak dapat automatis maju ke perputaran final dan harus ikuti kwalifikasi, seperti beberapa negara lainnya.

Tidak itu saja, pola golden goal (team dipandang memenangi laga jika ada yang cetak gol terlebih dulu di set waktu perpanjangan) dihilangkan dan diganti oleh Silver goal.

Menyaksikan jumlahnya peralihan yang sudah dilakukan di Piala Dunia 2006, kelihatannya sudah membuat 32 negara yang berpartipasi wajib melakukan penyesuaian, terhitung Jerman yang bertindak selaku tuan rumah.

1. Jerman Sapu Bersih Kemenangan di Fase Group
Bertindak selaku tuan-rumah, Jerman automatis harus tempati group A bersama tiga negara yang lain, Ekuador, Polandia dan Kosta Rika.

Team bimbingan Jurgen Klinsmann yang saat itu diperkokoh beberapa pemain seperti Michael Ballack, Miroslav Klose, Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski sampai Philipp Lahm, tidak memiliki permasalahan memiliki arti untuk maju ke 16 besar.

Der Panzer yang terlihat punyai formasi tim lebih bagus, sanggup mencatat tiga kemenangan dan cuma kecolongan 1x (saat berjumpa Kosta Rika), dan sanggup cetak delapan gol.

Bisa lolos sebagai juara group tanpa permasalahan memiliki arti, Jerman akan hadapi Swedia pada set 16 besar.

2. Tekanan Panas waktu Hadapi Argentina
Sukses menaklukkan Swedia di set 16 besar dengan score 2-0, Jerman harus hadapi ujian berat saat capai perempat final yang perlu temui tim nasional Argentina.

Benar saja, Der Panzer kelihatan alami kesusahan untuk tembus baris pertahanan mereka yang dijaga oleh Juan Sorin dan Gabriel Heinze pada segi tengah.

Bahkan juga, Jerman harus alami nasib jelek dengan menyaksikan gawang Jens Lehmann kecolongan saat Roberto Ayala, sukses menuntaskan umpan Javier Mascherano secara sempurna.

Telah unggul 1-0, Argentina memang semakin dapat memimpin laga dan diunggulkan untuk maju ke semifinal. Tetapi, Der Panzer yang tidak mengenal kata berserah, dan memperoleh support dari suporternya sendiri sanggup menyamai posisi di menit-80.

Saat itu, Miroslav Klose yang mencatat namanya ke papan score dan membuat pertandingan harus ditetapkan melalui sinetron beradu penalti.

Dalam beradu penalti figur penjaga gawang Jerman, Jens Lehmann sukses jadi penentu kemenangan, dengan mengagalkan dua pelaksana eksekusi Argentina yaitu Ayala dan Esteban Cambiasso.

Lehmann, dapat jalankan pekerjaannya dengan baik bukan masalah peruntungan semata. Karena, dianya dipandang memperoleh ‘contekan’ dari pelatih penjaga gawang waktu itu, Andreas Koepke yang memberitahu rutinitas beberapa pemain Argentina saat lakukan beradu penalti.

3. Kalah di Semi-final dan Jadi Juara Ke-3
Keinginan Jerman untuk tembus final seperti pada Piala Dunia 2002, tidak dapat terjadi ketika bermain sebagai tuan rumah. Italia mengagalkan keinginan Der Panzer saat partai semifinal.

Kekalahan Jerman kelihatan menegangkan, karena awalnya banyak yang berasumsi bila kemenangan akan ditetapkan melalui sinetron beradu penalti, Gli Azzurri malah sanggup cetak 2 gol di beberapa menit akhir set waktu perpanjangan dari Fabio Grosso dan Alessandro Del Piero.

Walau kalah saat temui Italia, Der Panzer bisa akhiri kompetisi Piala Dunia 2006 dengan muka tersenyum, ingat mereka memperoleh medali Perunggu saat taklukkan Portugal dalam persaingan perebutan juara ke-3 .

4. Italia Juara Piala Dunia untuk Ke-4 Kalinya
Italia yang telah singkirkan tuan-rumah, Jerman di semi-final Piala Dunia 2006, kenyataannya bisa tutup kompetisi empat tahunan itu dengan hasil maksimal.

Ya, Gli Azzurri sukses menuntaskan kompetisi Piala Dunia dengan jadi juara selesai menaklukkan juara di edisi 1998 lalu, Prancis melalui sinetron beradu penalti karena sampai set waktu perpanjangan papan score masih tetap kelihatan seimbang 1-1.

Pertandingan final di antara Italia dengan Prancis, memang termasuk sebuah surprise karena tidak ada yang memprediksinya, sesudah ke-2 nya merasakan hasil jelek pada tahun 2002 lalu.

Walaupun Italia memiliki hak jadi juara dunia, pemain terbaik malah dicapai oleh Zinedine Zidane dan pemain muda terbaik dicapai Lukas Podolski dan sepatu emas jadi punya Miroslav Klose.

Italia cuma mempunyai Gianluigi Buffon yang dikukuhkan sebagai kiper terbaik dalam sejauh gelaran itu.

5. Masa lalu dari Piala Dunia 2006
Piala Dunia 2006 kelihatannya memiliki banyak segi bersejarah, seperti ada tujuh negara kiprahan yaitu Angola, Trinidad dan Tobago, Pantai Gading, Ghana, Republik Ceska, Ukraina, dan Serbia-Montenegro (saat sebelum berpisah).

Tidak itu saja, beberapa hal menarik banyak juga ada dalam edisi 2006 ini. Satu diantaranya ialah kejadian kekeliruan wasit, Graham Poll yang memberi tiga kartu kuning ke pemain Kroasia, Josip Simunic pada pertandingan menantang Australia.

Selainnya hal itu, beberapa momen penting terlihat terlahir di Jerman saat Ronaldo Nazario yang saat itu, membuat catatan rekor baru sebagai pembuat gol paling banyak dalam selama hidup Piala Dunia (15 gol) selesai mencatat namanya melawan Ghana.

Tetapi kelihatannya peristiwa yang tidak akan terlewatkan untuk semua pencinta sepakbola ialah tindakan polemis di pertandingan final Italia menantang Prancis, saat Zinedine Zidane harus ditendang wasit pada pertandingan terakhir kalinya sebagai pemain sepak bola saat menanduk Marco Materazzi.

Saat itu, provakasi yang dilemparkan Materazzi ke Zizou membuat tidak dapat meredam emosi, hingga putuskan jalan singkat untuk ‘menyakiti’ bek Italia itu dan akhiri pertandingan dengan kepala tertunduk.